Bigger Text

Contrast

Bigger Text

Contrast

Menu
Menu
0
Back
Back

Accessibility

Change Language

Change Language

Accessibility

Bigger Text

Contrast

May 2021

In This Issue

From SGM General Director

Building a Society That Realises Happiness for Both Oneself and Others
In his 39th Peace Proposal issued on January 26, Value Creation in a Time of Crisis, SGI President Daisaku Ikeda addressed major issues such as the COVID-19 pandemic, building a global culture of harmony and human rights, the need to get rid of nuclear weapons and the climate crisis.

Membina Masyarakat yang Merealisasikan Kebahagiaan untuk Diri Sendiri dan Orang Lain
Dalam Usul Keamanan beliau yang ke-39 yang dikeluarkan pada 26 Januari, Value Creation in a Time of Crisis, Presiden SGI, Encik Daisaku Ikeda mengupas isu-isu utama seperti pandemik COVID-19, membina budaya yang harmoni dan hak asasi manusia secara global, keperluan untuk menyingkirkan senjata nuklear dan krisis iklim.

From SGI President

Making the Joyous Song of Bodhisattvas of the Earth Resound! by SGI President Daisaku Ikeda

Feature

The Brilliant Path of Worldwide Kosen-rufu: Learning from The New Human Revolution Commentary on Volume 26 by SGI Vice-President Hiromasa Ikeda

“Unforgettable Scenes” – Key Episodes from Volume 26 from the Seikyo Shimbun

Excerpts from Nichiren’s Writings Found in Volume 26 from the Seikyo Shimbun

Towards a New Renaissance of Life by SGI President Daisaku Ikeda

Special Feature

Value Creation in a Time of Crisis (2021 Peace Propsal – part 2) from SGI President Daisaku Ikeda

Halaman Kanak-Kanak

Raja Rinda dan Kuda Putih

Experience

Fulfilling Our Mission as Golden Pillars Kevin Moncrief, USA

Art

Khaw Sia – Orchids Fit for a King by Leong Tuck Yee

News

-

Editor’s Note

-

In his 39th Peace Proposal issued on January 26, Value Creation in a Time of Crisis, SGI President Daisaku Ikeda addressed major issues such as the COVID-19 pandemic, building a global culture of harmony and human rights, the need to get rid of nuclear weapons and the climate crisis. He proposed solutions for overcoming these challenges and called on the global community to together build a society realising “happiness for both oneself and others through bringing into full play the human capacity to create value.” [1]

When we look at the world today, people are only concerned about their own interests. Most people only care about themselves and their own families, placing their personal concerns above all else. People even resort to unethical methods, even damaging and sacrificing the needs of others in order to fulfil their own interests.

Looking at our pandemic-stricken society as an example, we can see that many people have had their spirits crushed and livelihoods destroyed – they are in dire straits. But the cruel reality is that they are ignored or discriminated against, – even excluded – leaving them isolated and helpless.

Even where the supply of vaccines is concerned, we see that countries only take care of their own needs and turn a blind eye to the needs of other countries.

On this, President Ikeda stressed that we must have the determination to never leave behind those struggling in the depths of adversity, lending them a helping hand, and shine the warm glow of concern in their lives. We must enable them to bring forth the strength to live with dignity and strive to build the foundations for a society where the word “misery” is eradicated.

In “The Three Virtues of Food,” Nichiren Daishonin writes: “If one gives food to others, one will improve one’s own lot, just as, for example, if one lights a fire for others, one will brighten one’s own way.” (WND-2, pg 1060) This teaches us that when we contribute to the wellbeing of others, we ourselves will receive benefit too.

The Record of the Orally Transmitted Teachings states: “‘Joy’ means that oneself and others together experience joy.” (OTT, pg 146) True joy is when we and others enjoy happiness.

On this, President Ikeda says: “Happiness is something that we must each achieve for ourselves and experience in our own lives. But at the same time, one’s own happiness to the exclusion of others is not true happiness. Just being content with one’s own welfare with no concern for others is selfish. By the same token, brushing aside one’s own happiness and caring only about the happiness of others is not sufficient either. True happiness is a condition when both we ourselves and others are happy.” [2]

He also points out: “We cannot steal happiness from someone or attain it by sacrificing others for our own gain. It is something that must be shared – which is why I have always insisted that our happiness must not be built upon the misfortune of others.” [3]

We cannot live alone and isolated. Humankind has always been a community where we share joy and sorrow together. The thinking that helping others will only hurt our interests is the main reason for the terrible state that society is in today.

There is no life more noble than one dedicated to caring for and helping others, and enabling people to become happy.

Let us learn from this pandemic and transform this crisis into opportunity, and together build a society that realises happiness for both oneself and others!

[1] Pg 42 of this issue.
[2] FLOW No. 661 (01.10.2017), pg13–14.
[3] Ibid., pg 14.

Dalam Usul Keamanan beliau yang ke-39 yang dikeluarkan pada 26 Januari, Value Creation in a Time of Crisis, Presiden SGI, Encik Daisaku Ikeda mengupas isu-isu utama seperti pandemik COVID-19, membina budaya yang harmoni dan hak asasi manusia secara global, keperluan untuk menyingkirkan senjata nuklear dan krisis iklim. Beliau mencadangkan penyelesaian untuk mengatasi cabaran-cabaran ini dan menyeru komuniti global untuk bersama-sama membina sebuah masyarakat yang merealisasikan “kebahagiaan untuk diri sendiri dan juga orang lain dengan memanfaatkan sepenuhnya kebolehan manusia untuk mencipta nilai.”(1)

Apabila kita melihat pada dunia hari ini, manusia hanya mementingkan kepentingan diri mereka sendiri. Kebanyakan orang hanya mengambil berat tentang diri mereka dan keluarga mereka sendiri, meletakkan kepentingan peribadi mereka di atas segalanya. Malah, ada juga orang yang menggunakan cara-cara yang tidak beretika, merosakkan dan mengorbankan keperluan orang lain demi memenuhi kepentingan mereka sendiri.

Melihat pada masyarakat kita yang dilanda pandemik sebagai contoh, kita dapat melihat bahawa banyak orang menjadi lemah semangat dan mata pencarian mereka binasa – mereka berada dalam kesusahan. Tetapi, realiti yang kejam menyebabkan mereka terabai atau didiskriminasikan – malahan terpencil dan tidak berdaya.

Malah berkenaan dengan pembekalan vaksin, kita dapat melihat bahawa negara-negara hanya menjaga keperluan mereka sendiri dan tidak mengendahkan keperluan negara-negara lain.

Mengenai perkara ini, Presiden Ikeda menegaskan bahawa kita hendaklah bertekad untuk jangan sekali-kali meninggalkan golongan yang sedang bergelut dengan kesusahan, hulurkanlah bantuan kepada mereka, berikanlah sinaran keprihatinan terhadap kehidupanan mereka. Kita hendaklah membolehkan mereka menyerlahkan kekuatan untuk hidup dengan bermaruah dan berusaha membina asas bagi masyarakat untuk menghapuskan perkataan “kesengsaraan.”

Dalam Gosho “The Three Virtues of Food,” Nichiren Daishonin menulis: “Jika seseorang itu memberi makanan kepada orang lain, orang itu sendiri akan mendapat manfaatnya, seperti contohnya, jika seseorang itu menyalakan api untuk orang lain, seseorang itu akan menerangi jalannya sendiri.” (WND-2, hlm. 1060) Petikan ini mengajar kita bahawa apabila kita berbakti kepada kesejahteraan orang lain, kita sendiri akan menerima manfaatnya juga.

The Record of the Orally Transmitted Teachings (OTT) ada menyatakan: “‘Kegembiraan’ bermakna orang itu sendiri dan orang lain sama-sama menikmati kegembiraan.” (OTT, hlm. 146) Kegembiraan sejati dinikmati apabila kita dan orang lain sama-sama menikmati kebahagiaan.

Berkenaan dengan ini, Presiden Ikeda berkata: “Kebahagiaan adalah sesuatu yang kita harus capai untuk diri kita dan menikmatinya dalam kehidupan kita sendiri. Tetapi pada masa yang sama, kebahagiaan seseorang yang tidak termasuk kebahagiaan orang lain bukanlah kebahagiaan yang sejati. Seperti juga jika hanya berpuas hati dengan kebajikan diri sendiri dengan tidak mengendahkan orang lain adalah mementingkan diri sendiri. Dengan cara yang sama, mengabaikan kebahagiaan diri sendiri dan hanya mengambil berat tentang kebahagiaan orang lain adalah tidak mencukupi juga. Kebahagiaan sejati adalah diri kita dan orang lain sama-sama menikmati kebahagiaan.”(2)

Beliau juga berkata: “Kita tidak boleh merampas kebahagiaan daripada seseorang atau mencapai kebahagiaan dengan mengorbankan orang lain untuk manfaat diri kita. Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dikongsi bersama – inilah sebabnya mengapa saya selalu menegaskan bahawa kita tidak harus membina kebahagiaan kita berdasarkan nasib malang orang lain.”(3)

Kita tidak boleh hidup bersendirian dan terpencil. Manusia sememangnya adalah komuniti yang mana kita berkongsi kegembiraan dan kesedihan bersama-sama. Pemikiran bahawa menolong orang lain akan hanya mengurangkan kepentingan merupakan sebab utama terjadinya keadaaan buruk yang dihadapi oleh masyarakat pada hari ini.

Tidak ada kehidupan yang lebih luhur daripada kehidupan yang didedikasikan untuk mengambil berat dan membantu orang lain, dan membolehkan orang lain menjadi bahagia.

Marilah kita belajar daripada pandemik ini dan mengubah krisis menjadi peluang, dan sama-sama membina masyarakat yang merealisasikan kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang lain!

1. Halaman 42 dalam naskhah ini.
2. FLOW No. 661 (01.10.2017), hlm 13–14.
3. Ibid., hlm 14.

Share